Kemarin lusa (Rabu) akhirnya jenazah Angelina Yofanka, KL'09 yang hilang waktu rafting/arung jeram di Garut, ditemukan. Ketemunya dramatis sekali, karena ditemukan di daerah tak jauh dari tempat perahunya terbalik. Orangtuanya sudah menurunkan helikopter, 150 orang personel gabungan SAR dan lainnya sudah turun mencarinya, tapi ya, rahasia Tuhan, siapa yang tahu?

sejak tiga hari sebelumnya, doa mengalir banyak sekali buat Yofanka. dari twitter, facebook, blog, Beritanya diupdate terus secara aktual, dibaca oleh ribuan orang. Saya nggak pernah tahu Fanka, tapi saya merasa 'kenal' dengan dia semenjak beritanya wara-wiri di twitter, di facebook, di website. Bagaimana teman-temannya berjuang mencarinya, aliran doa dari persekutuan mahasiswa kristen di kampus, acara doa bersama, dan yang lainnya. Rasanya sedih sekali waktu Fanka akhirnya ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dunia. Saya memikirkan orang tuanya--bagaimana rasanya kehilangan anak yang sudah mereka besarkan sejak bayi?

Saat saya datang ke kampus pagi harinya, di halaman depan ada banyak sekali karangan bunga bertumpuk-tumpuk. Tulisan-tulisan selamat jalan bermunculan dimana-mana, mulai dari dunia maya sampai jaket. Puluhan orang berbaju hitam terlihat bersiap di depan kampus. Malamnya diadakan acara malam duka untuk Yofanka, yang diadakan oleh teman-temannya di jurusan dan unit pecinta alam. Dosennya di KL juga memberikan arahan dan perkiraan dimana kira2 Fanka berada waktu statusnya masih dalam pencarian.

Saya melihat lagi berita-berita, status-status, post blog, dan semua itu--saya pengen nangis rasanya. Nangis karena terharu, banyak sekali yang berdoa buat Fanka. Banyak sekali yang sedih buat dia, banyak sekali ucapan bela sungkawa dan doanya, begitu banyak dia diingat.

Apa kalau saya meninggal entah kapan nanti, saya juga akan diingat seperti itu? Akan banyak didoakan seperti itu? Atau dilupakan begitu saja?

Ya Allah, jadikanlah mati saya mati yang baik di jalan-Mu...